Penerapan Tri Hita Karana sebagai Desa Multikultur dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Agama Hindu di Desa Adat Piling, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan
Main Article Content
Abstract
This study aims to analyze the implementation of Tri Hita Karana as a philosophical foundation for developing a multicultural community and to examine its implications for Hindu Religious Education in Piling Traditional Village, Penebel District, Tabanan Regency. The social life of Piling Traditional Village is characterized by religious and sociocultural diversity, requiring the cultivation of harmony, tolerance, mutual cooperation, and respect for differences. In this context, Tri Hita Karana, which emphasizes harmonious relationships between humans and God (parhyangan), humans and fellow human beings (pawongan), and humans and the natural environment (palemahan), provides a relevant philosophical framework for fostering an inclusive and harmonious multicultural society. This study employs a qualitative approach with a descriptive-interpretive research design. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation involving traditional leaders, religious leaders, community members, and stakeholders involved in Hindu Religious Education. Data analysis was conducted through data reduction, data presentation, conclusion drawing, and philosophical interpretation of the community's social and religious practices. The findings indicate that the implementation of Tri Hita Karana in Piling Traditional Village is not limited to Hindu religious activities but is also manifested in patterns of social interaction, mutual cooperation, respect for religious differences, environmental awareness, and community participation in various social activities. The pawongan dimension plays a particularly significant role in fostering harmonious relationships among people of different religious backgrounds, while parhyangan and palemahan provide spiritual and ecological foundations for communal life. These practices have significant implications for Hindu Religious Education, particularly in developing learning processes that go beyond the transmission of religious knowledge toward the formation of tolerant, inclusive, humanistic, ecological, and pluralism-oriented character. Therefore, Tri Hita Karana can be reconstructed as a contextual and multicultural paradigm for Hindu Religious Education, in which religious values are not confined to the doctrinal domain but are transformed into lived.
Article Details
References
Adnyana, I. W. (2023). Tri Hita Karana sebagai fondasi harmoni masyarakat Bali. Denpasar: Pustaka Bali.
Adnyana, I. W. (2024). Penerapan Tri Hita Karana pada masyarakat multikultur di Bali. Jurnal Pendidikan Hindu, 10(1), 15–28. https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/jph/article/view/10/1/15-28
Anwar, S. (2022). Teori belajar dan pembelajaran. Jakarta: Kencana.
Arikunto, S. (2015). Prosedur penelitian: Suatu pendekatan praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Creswell, J. W. (2018). Research design: Pendekatan metode kualitatif, kuantitatif, dan campuran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Danim, S., & Khairil. (2021). Psikologi pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Darmalaksana, W. (2020). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: UIN Sunan Gunung Djati Press.
Dewi, N. P. S. (2022). Pendidikan karakter berbasis Tri Hita Karana di sekolah Hindu. Jurnal Pendidikan Agama Hindu, 8(2), 45–55. https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/jpah
Gunawan, I. (2020). Kearifan lokal dalam membangun solidaritas sosial masyarakat. Jurnal Ilmu Sosial, 6(1), 22–34. https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/jis
Lubis, R. (2021). Pendidikan karakter perspektif humanistik. Jakarta: Rajawali Pers.
Maslow, A. H. (2015). Motivation and personality. New York: Harper & Row.
Paramita, N. L. P. (2023). Pendidikan agama berbasis kearifan lokal Bali. Jurnal Pendidikan Hindu, 11(1), 60–70. https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/jph/article/view/123
Pemerintah Desa Mengesta. (2026). Website Resmi Pemerintah Desa Mengesta. Diakses pada 18 Juli 2026, dari https://mengesta.desa.id
Pemerintah Desa Mengesta. (2026). Desa Mengesta sebagai Desa dengan Kehidupan Masyarakat Multikultur. Diakses pada 18 Juli 2026, dari https://mengesta.desa.id
Putra, I. N. (2021). Tri Hita Karana sebagai sistem nilai sosial masyarakat Bali. Jurnal Kebudayaan Bali, 7(1), 30–40.
Putra, I. N., & Suardana, I. W. (2020). Tri Hita Karana sebagai landasan pendidikan multikultural di Bali. Jurnal Pendidikan Multikultural, 4(2), 88–100.
Rahmawati, D. (2024). Urgensi penelitian sosial berbasis kearifan lokal. Jurnal Metodologi Penelitian, 3(1), 10–20.
Sudarsana, I. K. (2020). Pendidikan agama Hindu berbasis budaya. Denpasar: Jayapangus Press.
Sugiyono. (2017). Metode penelitian kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2018). Metode penelitian kualitatif, kuantitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2020). Metode penelitian pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Tilaar, H. A. R. (2017). Multikulturalisme: Tantangan-tantangan global masa depan. Jakarta: Grasindo.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2014 tentang Pendidikan Agama Hindu.
Vygotsky, L. S. (2016). Mind in society. Cambridge: Harvard University Press.
Wiana, I. K. (2018). Makna Tri Hita Karana dalam kehidupan umat Hindu. Denpasar: Pustaka Bali.
Widiantara, I. M. (2021). Kondisi sosial masyarakat multikultur di Bali. Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya, 8(1), 50–62.
Wijaya, I. K. (2022). Implementasi Palemahan dalam kehidupan masyarakat Bali. Jurnal Lingkungan Hidup, 10(1), 65–75.
Yuliani, N. (2022). Peran nilai Pawongan dalam penguatan toleransi antarumat beragama. Jurnal Toleransi Sosial, 4(1), 15–27.